kumpulan makalah

terjemahan

Rabu, 28 Maret 2012

POTENSI DAN KARAKTERISTIK TINGKAHLAKU SISWA



I.          Pendahuluan

Setiap siswa dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal siswa saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan setrategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik awal siswa dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan unutk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan pra syarat dalam menyeleksi siswa sebelum mengikuti pebelajaran.
Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas individu siswa. Aspek-aspek berkaitan dapat berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.

II.       Rumusan masalah
a.       Pengertian potensi
b.      Pengertian karakteristik
c.       Factor Pembentuk karakter
a
III.    Pembahasan
A.    Pengertian potensi.
Potensi siswa yang dimaksud dalam rambu-rambu ini adalah kapasitas atau kemampuan dan karakteristik / sifat individu yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi lain. Potensi itu meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral dan religius.

1. Potensi Fisik
Kondisi kesehatan fisik dan keberfungsian anggota tubuh diperoleh melalui pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tenaga medis dan  observasi perilaku dalam mengikuti aktivitas pembelajaran oleh guru.

2. Potensi Intelektual.
Potensi intelektual terbagi lima kelompok, yaitu:
1. Prestasi Akademik.
2. Kecerdasan Umum
Kecerdasan umum meliputi hal-hal
a.  kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan tepat.
b.    memecahkan masalah;
c.    menciptkan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah;
d.  kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu; dan
e.    kemampuan mengkritik diri sendiri.


3. Kemampuan Khusus / Bakat
            Kemampuan khusus atau bakat meliputi
a.    Kemampuan verbal-kebahasaan
b.    Kemampuan logis-matematis
c.    Kemampuan seni
d.    Kemampuan tilikan ruang
e.     Kemampuan badaniah-kinestetik
f.      Kemampuan musik
g.     Kemampuan antarpibadi
h.     Kemampuan kealaman
4. Kreativitas
            Kreativitas meliputi beberapa hal
a.     memiliki dorongan ingin tahu yang besar
b.     sering mengajukan pertanyaan
c.     memiliki banyak gagasan
d.     bebas dalam menyatakan pendapat
e.     memiliki rasa keindahan
f.      menonjol dalam salah satu bidang seni
g.     memiliki pendapat sendiri dan mampu mengungkapkannya
h.     memiliki rasa humor tinggi
i.      daya imajinasi yang kuat
j.      orisinalitas
k.     dapat bekerja sendiri
l.      senang mencoba hal-hal baru
m.    mampu mengembangkan dan memerinci gagasan

5. Kepribadian
            Sedangkan kepribadian meliputi hal
a.   kemampuan mengelola emosi,
b. Kemampuan mengembangkan dan menjaga motivasi belajar / berprestasi,
c.   Kepemimpinan,
d.   Kemampuan menyesuaikan diri,
e.   Kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi,
f.    Responsibilitas, 
g.   Orientasi nilai, moral dan religi,
h.   Kecenderungan kebutuhan,
i.    Sikap,
k.   Kebiasaan, dan sebagainya.[1]

B.     Pengertian karakteristik
Terdapat beberapa pendapat tentang arti dari karakteristik, yakni:
1.    menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.
2.    Menurut Al-Barry, karakter bermakna hampir sama dengan sifat-sifat bawaan, watak, kepribadian, kebiasaan.
3.    Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
4.    Ron Kurtus dalam berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.
5.    Sedangkan menurut Havinghuerst yang dimaksud dengan karakter adalah suatu perangkat (set) yang terdiri dari lima karakter. Setiap karakter merupakan suatu presentasi dari tingkat perkembangan psikososial individu sebagai berikut :
1.    Amora Infancy.
2.    Expedent Early childhood.
3.    Conforming Later childhood.
4.    Irrational-conscientious  Adolescence and adulthood.
5.    Rational-altruistic.
Kendatipun bisa jadi seseorang memiliki tipe murni akan tetapi dalam praktiknya proporsi kelima kategori tersebut bersifat relatif bagi setiap orang.
Kata "karakter" berasal dari kata Yunani: charakter. Semula digunakan tanda terkesan atas koin. Ada pula yang memaknai berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Setiap individu memiliki ciri, sifat bawaan (heredity), dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Ahli psikologi berpendapat bahwa kepribadian dibentuk oleh perpaduan factor perpaduan factor pembawaan dan factor lingkungan. Karakteristik bawaan, baik yang bersifat biologis maupun psikologis, dimiliki sejak lahir. Apa yang dipikirkan, dikerjakan, atau dirasakan seseorang atau merupakan hasil perpaduan antara apa yang ada diantara factor-faktor biologis yang diwariskan dan pengaruh lingkungan sekitarnya.
Tanpa memedulikan umur seorang anak, karakteristik pribadi yang dibawa ke sekolah terbentuk dari pengaruh lingkungan. Hal itu berpengaruh cukup besar terhadap keberhasilan atau kegagalannya di sekolah dan pada masa-masa perkembangan selanjutnya.
Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan factor biologis cenderung lebih bersifat tetap (ajeg), sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan factor psikologis lebih mudah berubah karena dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.[2]
Karakter seseorang baik disengaja atau tidak, didapatkan dari orang lain yang sering berada didekatnya atau yang sering mempengaruhinya, kemudian ia mulai meniru untuk melakukannya. Oleh karena itu, seorang anak yang masih polos seringkali akan mengikuti tingkah laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Erat kaitan dengan masalah ini, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan kata lain kepribadian bersifat genetis.
Dalam hal ini ada empat indentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, yaitu :
1.  Kemampuan Dasar.
2.  Latar belakang pengalaman.
3. Latar belakang sosial.
4. Perbedaan individual.

Adapaun perilaku belajar siswa menurut Robert Gagne dikelompokkan ke dalam delapan kelas yaitu :
1.    Signal learning (belajar isyarat). Dalam jenis ini siswa mendapat respon terkondisi terhadap signal tertentu.
2.    Stimulus-Respon learning. Menurut Robert Gagne proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor inforcement.
3.     Chaining (mempertautkan).
4.     Verbal Association. Tipe belajar 3 dan 4 ini setaraf, yaitu belajar-mengajar menghubungkan S-R yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan untuk tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan dan reinforcement tetap penting.
5.    Discrimination learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap paling sesuai.
6.    Concept learning atau belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
7.    Rule learning, atau belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sistesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai rule: prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah dan sebagainya.
8.    Problem Solving yakni belajar memecahkan masalah. Pada siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah, merespon terhadap rangsangan yang menggambarkan atau situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya.

C.     Factor Pembentuk karakter
                             Diantara factor-faktor yang membentuk karakter, adalah
1.      Pendidikan dan Anak.
2.      Pengaruh sekolah selama tahun-tahun pertengahan.
3.      Pendidikan selama remaja.
4.      Pengaruh sosialisasi atau pergaulan.[3]
Sedangkan Teknik untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, interviu, observasi dan tes (pretest). Subjek yang memberikan insformasi diminta untuk mengidentifikasi tingkat pengusaan siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian (rating scales).[4]

IV.             Kesimpulan
► Menurut kamus bahasa Indonesai, potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan untuk lebih berkembang. Setiap orang memiliki potensi, dan tentu berbeda setiap apa yang dimiliki antara satu orang dengan orang lain.
  Kata "karakter" berasal dari kata Yunani: charakter. Semula digunakan tanda terkesan atas koin. Ada pula yang memaknai berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku,
►Diantara factor-faktor yang membentuk karakter, adalah
1.      Pendidikan dan Anak.
2.      Pengaruh sekolah selama tahun-tahun pertengahan.
3.      Pendidikan selama remaja.
4.      Pengaruh sosialisasi atau pergaulan

V.          Penutup
Demikianlah makalah ini kami susun. Dengan pokok pembahasan ini, diharapkan kita sebagai pendidik mengerti dan memahami penjelasan mengenai potensi dan karakteristik siswa.

Daftar pustaka
http://konselorindonesia.blogspot.com/2012/03/analisis-potensi-siswa.html
Enung Fatimah,Psikologi Perkembangan Peserta Didik,Pustaka Setia:Bandung,2010
Djaali,psikologi pendidikan,Bumi Aksara:jakarta2011
http://cikelenk.blogspot.com/2011_12_01_archive.html



[1] http://konselorindonesia.blogspot.com/2012/03/analisis-potensi-siswa.html
[2] Enung Fatimah,Psikologi Perkembangan Peserta Didik,Pustaka Setia:Bandung,2010
[3] Djaali,psikologi pendidikan,Bumi Aksara:jakarta2011
[4] http://cikelenk.blogspot.com/2011_12_01_archive.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar